Jadi Tradisi, Ini 3 Negara yang Masih Mengonsumsi Daging Kucing

Kontroversi Konsumsi Daging Kucing: Antara Tradisi, Mitos Kesehatan, dan Sorotan Dunia

Hanoi & Beijing – Di saat mayoritas masyarakat dunia memanjakan kucing sebagai anggota keluarga yang menggemaskan, sebuah realitas kontras masih terjadi di beberapa belahan dunia. Kucing, yang secara global dikenal sebagai “anabul” kesayangan, justru masih menempati posisi di meja makan sebagai sumber pangan hingga bahan pengobatan tradisional.

Daging Kucing

Fenomena ini tidak hanya memicu perdebatan etika, tetapi juga mengungkap sisi gelap perdagangan hewan ilegal yang melintasi batas negara.

Vietnam: Bisnis “Little Tiger” di Pasar Gelap

Melansir data dari World Population Review, Vietnam menjadi salah satu titik panas perdagangan daging kucing. Di sana, daging kucing sering dijuluki sebagai “Little Tiger”. Meski pemerintah setempat telah berupaya memperketat regulasi, permintaan tetap tinggi karena adanya kepercayaan bahwa daging kucing dapat menangkal nasib buruk dan meningkatkan libido.

Di kota-kota besar seperti Ho Chi Minh, daging kucing diolah menjadi sajian kuliner yang dianggap mewah (delikasi), seperti:

  • Sup dan Semur: Olahan hangat yang populer di musim dingin.

  • Sate Rempah: Disajikan dengan baluran serai, jahe, ketumbar, dan cabai untuk menyamarkan aroma khas dagingnya.

Tingginya permintaan ini memicu aksi kriminalitas. Banyak kucing peliharaan yang dicuri, bahkan diselundupkan dari negara tetangga seperti Thailand dan Laos untuk memenuhi stok di toko-toko daging khusus.

China: Konsumen Terbesar dan Mitos Metabolisme

Tiongkok tetap memegang predikat sebagai konsumen daging kucing dan anjing terbesar di dunia. Berdasarkan laporan, lebih dari empat juta anak kucing dikonsumsi setiap tahunnya di berbagai provinsi.

Bagi sebagian masyarakat di sana, konsumsi daging kucing bukan sekadar soal rasa, melainkan fungsi medis. Daging kucing dipercaya mampu:

  1. Meningkatkan metabolisme tubuh.

  2. Menyejukkan tubuh saat musim panas ekstrem.

  3. Menghangatkan tubuh di tengah musim dingin yang membeku.

Australia: Isu Kucing Liar dan Celah Hukum

Berbeda dengan Asia, kasus di Australia lebih berkaitan dengan populasi satwa liar yang tak terkendali. Australia dikenal memiliki jumlah kucing liar yang sangat melimpah. Menariknya, tidak adanya aturan hukum yang spesifik mengenai pelarangan penyembelihan kucing untuk konsumsi pribadi menciptakan celah bagi munculnya pasar gelap di beberapa daerah perkotaan.


Mengapa Isu Ini Sulit Diberantas? (Perspektif Tambahan)

1. Benturan Budaya vs Hak Asasi Hewan

Bagi aktivis internasional, praktik ini dianggap kejam. Namun, bagi komunitas tertentu, ini adalah warisan budaya yang sudah berlangsung turun-temurun. Perbedaan perspektif inilah yang membuat penegakan hukum sering kali membentur tembok resistensi sosial.

2. Ancaman Kesehatan Global (Zoonosis)

Di balik mitos kesehatan, mengonsumsi daging kucing liar menyimpan risiko besar. Proses penyembelihan yang tidak higienis dan asal-usul hewan yang tidak jelas (seringkali kucing jalanan yang sakit) dapat memicu penyebaran penyakit zoonosis seperti rabies dan infeksi bakteri berbahaya.

3. Tekanan Komunitas Internasional

Seiring meningkatnya kesadaran akan kesejahteraan hewan, tekanan dari komunitas global dan organisasi seperti Four Paws terus mendesak pemerintah terkait untuk menutup pasar-pasar daging hewan peliharaan secara permanen demi menjaga citra pariwisata dan kesehatan publik.

crazyforliberty.com

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*